Februari 02, 2026

Jambi 1900-1916: From War to Rebellion

 

THE PURPOSE of this study is to examine the seventeen years of the history of Jambi from 1900 to 1916, during which period Jambi experienced a process of rapid change as the result of the establishment of Dutch colonial rule. This work will look into the entire process of change in all its political and economic as well as its socio-religious aspects, and how these changes led to the rebellion in 1916. Although the main emphasis here is on the rebellion of 1916--which was the first major rebellion in Indonesia that used the banner of a nationalist movement, the Sarekat Islam--this study will also discuss the latest stage of the Jambi War (1900-1907) and the protest movements that occurred between 1907 and 1916 in order to examine the different features of all the anti-Dutch resistances in Jambi. By examining these different features we will be able to see the developmental stages of the movements.

Recognizing that a study of a social change requires an adequate understanding of the situation before changes occur and the fact that there is no reference work on Jambi it is necessary to present a study of the Jambi traditional society. As a matter of fact, the discussion of Jambi traditional society given here is a demanding and separate study by itself. This study also analyzes the messianic/millenarian nature of the protest movements in Jambi.

This study has benefited greatly from the analytical tools of Social Anthropology. Being a native of South Sumatra the author has sufficient first hand knowledge about her society. However, as a historical study, the main concern here is to explore the relation between events which means that chronology remains very essential. Also, unlike anthropologists who always focus their attention on society in change and see the changes as coming from without as well as from within, we have seen Jambi as a society in equilibrium undergoing changes forced from without.

________

Jang Aisjah Muttalib, "Jambi 1900-1916: From War to Rebellion", PhD thesis in Columbia University (1995).

Read more…

Februari 01, 2026

Jambi Kehilangan 2,5 Juta Hektare Hutan dalam Lima Dekade Terakhir

 

KKI Warsi: Hutan Jambi di Ambang Krisis Ekologis

Catatan Akhir Tahun 2025 KKI WARSI. Jambi, jantung Sumatera yang selama ratusan tahun dijaga oleh hutan alamnya, kini berada di titik genting. Pohon-pohon yang dahulu menjadi “pasak bumi”, penyangga air, iklim, dan kehidupan, satu per satu runtuh di tengah laju ekstraksi sumber daya alam yang masif. Catatan Akhir Tahun 2025 KKI WARSI menunjukkan bahwa krisis ekologi di Jambi bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini.

Dalam kurun 52 tahun terakhir, Jambi telah kehilangan sekitar 2,5 juta hektare hutan. Tutupan hutan yang tersisa kini hanya 929.899 hektare atau  18,54 persen dari luas daratan. Jika ditarik lebih singkat, dalam 10 tahun terakhir Jambi telah kehilangan, 112.372 hektare  atau setara dengan 5 kali luas Kota Jambi.

“Angka ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis, yang berpotensi menjadi bencana terjadi secara eksponensial dan pemulihannya akan membutuhkan biaya besar serta waktu lama,”kata Direktur KKI Warsi Adi Junedi di Jambi, 7 Januari 2026 pada acara Catatan Akhir Tahun KKI Warsi 2025.  

Adi Junedi menjelaskan, pemicu utama krisis eologis ini, adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala luas, terutama sawit, ekspansi pertambangan serta kebakaran hutan dan lahan menjadi faktor dominan hilangnya hutan.

Aktivitas tambang, baik batubara maupun emas, telah merusak bentang alam, mencemari sungai, dan memunculkan masalah sosial sosial. Hingga 2025, pantauan citra satelit menunjukkan pertambangan batubara telah membuka lahan sekitar 16 ribu hektare, tersebar di kawasan hutan dan areal penggunaan lain.

“Sedangkan penambangan emas tanpa izin (PETI) terindikasi telah merusak lebih dari 60 ribu hektare, setara hampir tiga kali luas Kota Jambi, terlihat di kawasan areal penggunaan lain, hingga taman nasional,” kata Adi.  

Adi mengatakan kerusakan hutan berkelindan langsung dengan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Ketika hutan hilang, hujan tidak lagi diserap tanah. Sungai yang alurnya semakin lebar akibat tambang, dan tingginya material bekas tambang yang masuk ke sungai, menyebabkan  sungai meluap tanpa kendali ketika hujan dengan curah tinggi. “Dengan kondisi ini, banjir serta longsor menjadi ancaman permanen, bukan sekadar risiko musiman. Jambi hari ini sedang tidak baik-baik saja, dan bencana hanya tinggal menunggu waktu,” kata Adi.

Di Tengah Krisis, Masih Ada Harapan: Perhutanan Sosial Pulihkan Hutan Jambi. Di tengah krisis ekologis dan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi, secercah harapan masih tumbuh dari hutan-hutan yang dikelola masyarakat. Perhutanan sosial terbukti mampu memulihkan ekologi sekaligus menopang kehidupan warga.

Dalam enam tahun terakhir, tutupan hutan di wilayah perhutanan sosial di Provinsi Jambi yang didampingi KKI Warsi meningkat sekitar 20.314hektare, luas yang hampir setara dengan Kota Jambi. “Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa hutan yang dikelola secara partisipatif, dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, mampu memperbaiki kondisi ekologi yang sempat terdegradasi,” kata Adi.

Dikatakan, model pengelolaan berbasis masyarakat ini tidak hanya memulihkan hutan, tetapi juga memperkuat ekonomi warga. Melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu, agroforestri, dan ekowisata, masyarakat memperoleh manfaat langsung dari hutan yang tetap tegak. Hutan tidak lagi dipandang sebagai ruang eksploitasi semata, melainkan sebagai sumber kehidupan yang dijaga bersama.

“Peningkatan tutupan hutan tersebut menegaskan satu hal penting: hutan yang dikelola dengan baik dan adil akan memberikan manfaat berlipat, bagi masyarakat, bagi ekologi, dan bagi masa depan bumi,” ujarnya.

Namun, capaian ini tidak boleh berhenti sebagai kisah sukses sesaat. Ke depan, dibutuhkan upaya yang lebih kuat untuk mempertahankan tutupan hutan sekaligus memastikan keberlanjutan penghidupan masyarakat pengelolanya.

Salah satu langkah strategis yang perlu didorong adalah memaksimalkan peluang pendanaan iklim, seperti pasar karbon, Results-Based Payment (RBP), dan biodiversity credit. Skema-skema ini membuka jalan baru agar hutan yang dijaga tetap memiliki nilai ekonomi yang adil bagi masyarakat pengelolanya. Inisiatif seperti pohon asuh dan adopsi bibit juga menjadi peluang nyata untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat upaya pemulihan hutan.

Transisi ini menandai pergeseran penting dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi hijau, ekonomi yang menjaga, bukan menghabiskan, hutan. Pengelolaan hutan lestari memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, memperbaiki fungsi ekologis, serta melipatgandakan dampak positif dari pengelolaan hutan berkelanjutan.

Di saat yang sama, upaya pemulihan hutan harus berjalan seiring dengan penegakan hukum terhadap kejahatan ekologi, perbaikan tata kelola kehutanan, serta rehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak. Langkah-langkah ini mendesak dilakukan untuk mengendalikan bencana hidrometeorologi yang kian sering dan merusak.

“Perubahan iklim adalah kenyataan. Beradaptasi dan berbenah sekarang juga adalah keharusan, bukan pilihan,” tegas Adi. Tanpa upaya serius mengatasi akar persoalan kerusakan lingkungan, pembangunan akan berjalan di tempat, sementara biaya pemulihan akibat bencana akan terus menggerogoti sumber daya daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Catatan Akhir Tahun 2025 ini menjadi penanda arah: apakah Jambi memilih menyelamatkan sisa hutannya sebagai benteng terakhir kehidupan, atau membiarkannya runtuh dan menanggung krisis ekologis yang kian dalam.

Hutan Jambi masih bisa diselamatkan, jika kita bergerak sekarang.


Kompas: 2,5 Juta Hektare Hutan di Jambi Hilang dalam 5 Dekade

Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi merilis dalam kurun waktu 52 tahun terakhir, Jambi telah kehilangan sekitar 2,5 juta hektare hutan, tutupan hutan yang tersisa saat ini hanya tersisa 929.899 hektare atau 18,5 persen dari luas daratan. Jika ditarik lebih singkat, dalam 10 tahun terakhir Jambi telah kehilangan 112.372 hektare atau setara dengan 10 kali luas Kota Jambi. “Angka ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis, yang berpotensi menjadi bencana yang terjadi secara eksponensial dan pemulihannya akan membutuhkan biaya besar serta waktu lama,” kata Direktur KKI Warsi, Adi Junedi sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (7/1/2026).

Adi menjelaskan pemicu utama krisis ekologis ini adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala luas, terutama sawit, ekspansi pertambangan serta kebakaran hutan dan lahan menjadi faktor dominan hilangnya hutan.

Selain itu, aktivitas tambang, baik batubara maupun emas, telah merusak bentang alam, mencemari sungai dan memunculkan masalah sosial sosial.

Hingga 2025, pantauan citra satelit menunjukkan pertambangan batubara telah membuka lahan sekitar 16 ribu hektare, tersebar di kawasan hutan dan areal penggunaan lain. "Sedangkan penambangan emas tanpa izin (PETI) terindikasi telah merusak lebih dari 60 ribu hektare, setara hampir tiga kali luas Kota Jambi, terlihat di kawasan areal penggunaan lain, hingga taman nasional," tambah dia. Ia mengatakan kerusakan hutan berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Mengingat ketika hutan hilang, air hujan tidak lagi diserap tanah. Saat ini alur sungai semakin lebar akibat tambang, dan tingginya material bekas tambang yang masuk ke sungai menyebabkan sungai meluap tanpa kendali ketika hujan dengan curah tinggi.

"Dengan kondisi ini, banjir serta longsor menjadi ancaman permanen, bukan sekadar risiko musiman. Jambi hari ini sedang tidak baik-baik saja, dan bencana hanya tinggal menunggu waktu," tutupnya.


Detik: Hutan Jambi Turus Menyusut, Alih Fungsi Lahan-PETI Jadi Biang Kerok

Tutupan hutan di Provinsi Jambi terus mengalami penyusutan. Deforestasi dengan tujuan alih fungsi lahan hingga penambangan emas tanpa izin (PETI) yang meningkat menjadi faktor penyebab di balik hilangnya hutan di Jambi.

Menurut catatan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, selama 52 terakhir, Jambi telah kehilangan sekitar 2,5 juta hektare hutan. Tutupan hutan yang tersisa kini hanya 929.899 hektare atau 18,54 persen dari luas daratan.

Saat ini, tutupan hutan yang tersisa hanya sekitar 929.899 hektare atau 18,54 persen dari total luas daratan Jambi. Bahkan dalam satu dekade terakhir saja, hutan Jambi menyusut hingga 112.372 hektare, setara dengan hampir 10 kali luas Kota Jambi.

"Angka ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis, yang berpotensi menjadi bencana terjadi secara eksponensial dan pemulihannya akan membutuhkan biaya besar serta waktu lama," kata Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, Selasa (7/1/2026).

Berdasarkan pantauan citra satelit hingga 2025, menurut catatan KKI Warsi, tutupan hutan sempat mengalami tren peningkatan mulai 2020-2024. Namun, pada 2025 kembali mengalami penyusutan.

Adi menjelaskan, di balik hilangnya hutan di Jambi itu dipicu oleh alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan skala besar, terutama sawit. Selain itu, ekspansi pertambangan serta kebakaran hutan dan lahan turut menjadi faktor dominan hilangnya tutupan hutan di Jambi.

Aktivitas pertambangan, baik batu bara maupun emas ilegal, disebut telah meninggalkan jejak kerusakan serius. Bentang alam berubah, sungai tercemar, dan konflik sosial bermunculan di berbagai wilayah.

Masih dalam pantauan citra satelit hingga 2025, pembukaan lahan akibat pertambangan batu bara saja mencapai sekitar 16 ribu hektare. Ini tersebar di kawasan hutan maupun areal penggunaan lain.

"Sedangkan penambangan emas tanpa izin (PETI) terindikasi telah merusak lebih dari 60 ribu hektare, setara hampir tiga kali luas Kota Jambi, terlihat di kawasan areal penggunaan lain hingga taman nasional," tambah Adi.

Perluasan area PETI ini juga menjadi faktor dominan dan terus meningkat setiap tahun dalam menyumbang angka kerusakan hutan. Meski area tambang emas itu dominan berada di sepanjang aliran sungai. Wilayah itu tersebar di Kabupaten Sarolangun, Merangin, Bungo, Tebo, dan terbaru sudah merambah sampai Kabupaten Batang Hari.

Adi menambahkan bahwa kerusakan hutan tersebut berkelindan langsung dengan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Hilangnya tutupan hutan membuat air hujan tak lagi terserap optimal ke dalam tanah.

Di sisi lain, sungai-sungai yang melebar akibat aktivitas tambang serta masuknya material sisa galian menyebabkan aliran air mudah meluap saat hujan deras. Kondisi ini membuat banjir dan longsor menjadi ancaman yang terus mengintai.

"Dengan kondisi ini, banjir serta longsor menjadi ancaman permanen, bukan sekadar risiko musiman. Jambi hari ini sedang tidak baik-baik saja, dan bencana hanya tinggal menunggu waktu," pungkas Adi.

KKI Warsi turut andil dalam mengelola sisa hutan yang dikelola masyarakat di Jambi. Pendampingan masyarakat itu melalui skema perhutanan sosial.

Dalam 6 tahun terakhir, tutupan hutan di wilayah perhutanan sosial di Provinsi Jambi yang didampingi KKI Warsi meningkat sekitar 20.314 hektare. Tak hanya memulihkan hutan, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat.


Melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu, agroforestri, dan ekowisata, masyarakat memperoleh manfaat langsung dari hutan yang tetap tegak. Hutan tidak lagi dipandang sebagai ruang eksploitasi semata, melainkan sebagai sumber kehidupan yang dijaga bersama. Secara berkelanjutan, juga memaksimalkan pendanaan iklim, seperti pasar karbon, bioderversity credit, dan result-based payment (RBP).

Read more…

Januari 31, 2026

Javanese ‘Coolies’ Remember the Colonial Estate

 

ARTIKEL NICOLE Lamb, berjudul "A Time of Normalcy: Javanese ‘Coolies’ Remember the Colonial Estate", menyoroti hubungan antara Kayuaro di Kerinci, Jambi, dan Jawa, terutama dalam konteks kolonialisme Belanda, perdagangan, serta jaringan sosial-politik yang terbentuk pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kayuaro, meski berada di pedalaman Sumatra, ternyata memiliki keterhubungan erat dengan Jawa sebagai pusat administrasi dan ekonomi kolonial.

Kayuaro di Kerinci digambarkan sebagai daerah agraris yang menghasilkan komoditas penting, terutama teh dan kopi. Hasil pertanian ini tidak hanya dikonsumsi lokal, tetapi masuk ke dalam jaringan perdagangan kolonial yang berpusat di Jawa. Batavia (Jakarta) menjadi pintu utama ekspor, sehingga Kayuaro secara tidak langsung bergantung pada kebijakan ekonomi kolonial yang ditentukan di Jawa. Hubungan ini menunjukkan bagaimana daerah pedalaman di Sumatra terintegrasi ke dalam sistem kolonial yang berpusat di Jawa.

Selain ekonomi, hubungan Kayuaro dengan Jawa juga terjalin melalui migrasi dan pendidikan. Sebagian elite Kayuaro yang berkesempatan belajar di Jawa membawa pulang gagasan modernitas, termasuk ide-ide tentang nasionalisme dan organisasi sosial. Hal ini memperkuat kesadaran politik di Kayuaro, karena Jawa menjadi pusat pergerakan nasional yang kemudian menginspirasi daerah-daerah lain di Sumatra. Dengan demikian, Jawa berfungsi sebagai sumber ide dan jaringan politik yang memperluas wawasan masyarakat Kayuaro.

Dalam aspek politik, kolonial Belanda menempatkan Jawa sebagai pusat kendali administratif. Kebijakan yang diterapkan di Kayuaro sering kali merupakan turunan dari keputusan yang dibuat di Jawa. Hal ini menciptakan hubungan hierarkis: Jawa sebagai pusat kekuasaan, Kayuaro sebagai daerah pinggiran yang harus menyesuaikan. Namun, masyarakat Kayuaro tidak pasif; mereka menegosiasikan posisi mereka melalui lembaga adat dan jaringan lokal, sehingga tetap mempertahankan identitas dan otonomi di tengah tekanan kolonial.

Artikel ditutup dengan refleksi bahwa hubungan Kayuaro–Jawa bukan hanya soal dominasi kolonial, tetapi juga pertukaran ide, komoditas, dan jaringan sosial. Warisan kolonial ini masih terasa hingga kini, baik dalam struktur ekonomi maupun dalam pola migrasi dan pendidikan. Kayuaro menjadi contoh bagaimana daerah pedalaman di Sumatra mampu bertahan dan beradaptasi, sekaligus menunjukkan bahwa keterhubungan dengan Jawa membentuk dinamika sosial-politik yang lebih luas dalam sejarah Indonesia.

_______

Nicole Lamb, "A Time of Normalcy: Javanese ‘Coolies’ Remember the Colonial Estate", Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, 170, 4 (2014): 530-556.

Read more…

Naskah-naskah Kesultanan Jambi Dār al-Ma‘mūr

 

KAJIAN TENTANG sejarah awal Jambi, terutama sejak periode kesultanan pada abad ke-17, masih sedikit. Beberapa kajian abad ke-18 dan ke-19 lebih tergantung pada catatan Eropa dan arsip kolonial Belanda. Padahal, sumber-sumber lokal, meskipun tidak berlimpah, juga ada. Selama ini yang sering digunakan adalah surat yang merupakan media komunikasi antara sultan dan terutama pihak internal seperti kepala kampung atau dusun serta piagam yang berisi batas tanah dan yang menguasainya.

Selain surat atau piagam, naskah sejarah kesultanan yang lebih lengkap dan orisinal adalah Hikayat Negeri Jambi (HNJ), Undang-undang Piagam Pecacahan Jambi (UPPJ), dan Ini Sajarah Kerajaan Jambi (ISKJ). Ketiga naskah itu nyaris terabaikan dalam penulisan sejarah Jambi.

Buku karya Ali Muzakir, Naskah-naskah Kesultanan Jambi Dār al-Ma‘mūr (Jambi: Sutha Press, 2025), merupakan alih aksara atas ketiga naskah tersebut. Alih aksara adalah penggantian huruf-huruf naskah yang beraksara Arab ke aksara Latin, tanpa mengubah bahasa Melayu-nya. Alih aksara ini bertujuan untuk memperkenalkan naskah-naskah sejarah lokal Jambi secara lebih luas kepada akademisi maupun masyarakat umum.

_______

Ali Muzakir, Naskah-naskah Kesultanan Jambi Dār al-Ma‘mūr (Jambi: Sutha Press, 2025).

Read more…

Januari 30, 2026

Ornamental Replication in Multilingual Duano Speakers

 

LIVING IN a multilingual society, the Duano people, who speak the Duano language in Jambi Province, Sumatra, Indonesia, are inevitably exposed to language contact with various languages spoken in the region. This exposure provides Duano speakers with a range of linguistic options to select from in order to achieve their communicative goals. Among these, speakers adopt and replicate linguistic features, including affixes from Jambi Malay, a dominant language, into their linguistic repertoire. This study addresses two primary research questions: (1) How are replicated affixes from Jambi Malay used by Duano speakers? and (2) What motivates the replication of Jambi Malay affixes in Duano? Fieldwork conducted in Tanjung Jabung Barat in August 2024 collected natural data, narrative data, and elicited data. The findings reveal that most replications of Jambi Malay affixes in Duano are non-obligatory and are considered optional. Due to this non-obligatory nature, the replicated affixes function primarily as linguistic “ornaments.” Furthermore, the motivations behind the replication of these affixes include prestige and identity-flagging (both as Duano speakers, as well as part of the Jambi Malay community). This explains why the replication of affixes remains non-mandatory and is closely tied to social motivations, functioning as a symbolic “social token.”

________

Ernanda, Ekarina, & Nely Arief, "Ornamental Replication in Multilingual Duano Speakers", Word, 71, 3 (2025): 131-156.

Read more…