Juni 12, 2015

“Manusia Purba” dari Kerinci


TERKAIT DENGAN kehidupan masa lampau di Kerinci yang berhubungan dengan kehidupan manusia saat ini, terdapat kisah “manusia purba” yang disebut orang pendek. Kisah orang pendek ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu bahkan masih diyakini hingga saat ini. Istilah “manusia purba” yang saya pakai ini bermula dari salah satu bagian buku terjemahan karya Dr. Frances Gouda yang berjudul Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. Ada satu paragraf yang dikutip Gouda dari artikel De Java Bode, 2 Juli 1932, dicetak ulang pada 1991, menyebutkan bahwa makhluk tersebut mungkin saja merupakan rantai yang hilang dari posisi di antara manusia dan spesies binatang yang mengalami perkembangan paling tinggi (Frances Gouda, 1995: 246).

Pemikiran mengenai orang pendek sebagai mata rantai kesempurnaan evolusi manusia terkait dengan latar belakang orang-orang Eropa yang telah dibekali dengan seperangkat teori Lamarck, Darwin, dan Haeckel. Teori evolusi dari ketiga tokoh tersebut sangat memengaruhi pandangan orang-orang Eropa hingga abad ke-20. Salah satunya, teori yang merupakan bagian spekulasi Darwin pada masa kolonial tentang bentuk awal manusia purba yang telah menginspirasi beberapa peneliti selanjutnya, termasuk Eugene Dubois, peneliti manusia purba di Jawa.

Meski orang-orang Belanda sudah mengenal teori-teori tersebut, ada sebagian dari mereka yang masih memercayai tentang penampakan orang pendek. Misalnya, pegawai sipil Belanda, Louis Constant Westenenk, menulis dalam sebuah laporan kerja yang panjang tentang wilayah tempat ia bertugas sebagai Residen Palembang pada 1928. Ia menggambarkan sosok orang pendek dalam laporannya tersebut.

Makhluk itu disebutkan memiliki kaki terbalik, jari-jari berada di belakang, dan tumit berada di depan. Ia mampu bergerak lincah di hutan belantara dengan tinggi badannya sekitar 1 meter. Sekujur tubuhnya ditutupi bulu pendek. Itulah gambaran orang pendek di Gunung Tujuh, Danau Gunung Kerinci, dan Gunung Masurai yang masuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi.

Makhluk tersebut tak hanya dikenal di Kerinci, melainkan juga di kawasan pedalaman Sumatera bagian tengah hingga ke selatan. Istilah yang digunakan berbeda-beda, yaitu leco yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Rokan Ilir (Riau) dan Minangkabau; atu rimbu atau atu rimbo digunakan oleh masyarakat Kecamatan Rawas (Sumatera Selatan); sedapa atau sedapak digunakan oleh masyarakat rendah Sumatera tenggara (Sumatera Selatan); gugu, segugu, atau senggugu yang dipakai oleh masyarakat daerah Sumatera bagian selatan (Bengkulu dan Sumatera Selatan); serta sebaba yang dipakai oleh masyarakat Bengkulu bagian selatan, (Kompas, 21 April 2012). Orang pendek atau uhang pandak adalah istilah yang digunakan di Kerinci dan tirau merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat di sekitar Gunung Masurai, Merangin.

Tulisan mengenai orang pendek ini sudah ada sejak William Marsden menulis buku History of Sumatera pada 1783. Ia menyinggung soal orang gugu yang digambarkan dengan tubuh yang ditutupi bulu. Hingga saat ini, banyak tulisan, baik berupa artikel maupun buku, yang membahas mengenai orang pendek ini. Jadi sebenarnya bukan sesuatu hal yang asing bagi para penulis maupun peneliti yang tertarik terhadap sosok makhluk yang hidup di hutan Sumatera itu. Hanya saja, keberadaannya sampai detik ini belum dapat diketahui secara pasti, sehingga ada yang menyebutnya sebagai mitos dan makhluk ghaib.

Penelitian dan ekspedisi telah banyak dilakukan oleh orang-orang yang penasaran dengan sosok orang pendek. Beberapa ada yang dipublikasikan, selebihnya banyak yang tidak dipublikasikan lantaran sekadar memuaskan rasa penasaran mereka. Artikel terakhir yang membahas mengenai penelitian orang pendek tertulis di situs VIVAnews, 29 Maret 2013, berjudul “’Orang Pendek’ Sumatera: Manusia atau Kera?”.

Peneliti yang menjadi narasumber artikel tersebut bernama Deborah Martyr, perempuan asal Inggris yang menyatakan pernah beberapa kali melihat orang pendek. Ia melakukan penelitian sejak 1994 di kawasan Gunung Tujuh. Menurutnya, orang pendek tergolong primata, bukan manusia. Ia mengasumsikan makhluk tersebut lebih dekat ke siamang.

Pada 2010, Hans Bruner, ahli hewan dari Universitas Deakin, Australia, mengidentifikasi DNA rambut orang pendek yang dibawa oleh Deborah Martyr. Bruner menyatakan bahwa DNA makhluk itu adalah manusia, atau setidaknya berhubungan dekat dengan manusia. Jika pendapat ini diterima, orang pendek bisa berdiri sejajar dengan Homo neanderthal, Homo floresiensis, dan Homo sapiens alias masuk jajaran “manusia”. Ketiganya merupakan jenis manusia purba Indonesia yang ditemukan di Indonesia sesudah dua jenis manusia purba tertua sebelumnya, Meganthropus paleojavanicus dan Pitecanthropus.

Gambaran mengenai orang pendek dalam artikel tersebut sudah lebih jelas dibandingkan dalam artikel maupun buku yang terbit sebelumnya, mulai dari tempat tinggal, makanan, jejak kaki, feses hingga DNA, meskipun bukti berupa video atau gambar belum ada. Ternyata bukan perkara mudah mengambil gambar orang pendek karena disinyalir mereka memiliki kemampuan mendeteksi benda listrik, seperti halnya kamera. Pendek kata, penelitian Deborah Martyr, itu semua menunjukkan bahwa orang pendek tidak sekadar mitos atau makhluk ghaib, melainkan makhluk yang keberadaannya nyata.[]

____________

Artikel ini ditulis oleh Puteri Soraya Mansur dan dipublikasikan pertama kali dalam rubrik "Pustaka Jambi", Jambi Independent, 11 Juni 2015.

1 komentar: